Selasa, 23 April 2013

Isu Lingkungan perkotaan (Urbanisasi)

Assalamu'alaikum wr.wb.


      Masalah lingkungan perkotaan adalah ancaman terhadap masyarakat saat ini atau masa depan baik, yang mengakibatkan kerusakan yag disebabkan manusia terhadap lingkungan fisik. Masalah lingkungan seperti : masalah kesehatan seperti air minum tidak memadai, polusi udara baik diluar maupun didalam ruangan. Sehingga jumlah masyarakat yang ada dikota yang berasal dari desa dan ke kota untuk mencari uang karena kota merupakan  tempat sirkulasi atau perputaran uang dan masyarakat ingin mendapatkan fasilitas yang lebih memadai dibanding kehidupan didesa yang mengakibatkan mayarakat melakukan urbanisasi.


 

Gbr.2. Proses Urbanisasi



Urbanisasi dipicu karena perbedaan pertumbuhan atau ketidakmerataan fasilitas pembangunan desa dan kota, urbanisasi akan terus berlangsung dan terus menyebabkan permasalahan-permasalahan dilingkungan perkotaan dan berdampak pada perkembangan kota itu sendiri. Masyarakat melakukan proses ini dengan tujuan mencari pekerjaan dan kehidupan yang layak tetapi tujuan tersebut tidak didukung oleh kemampuan atau skill masing-masing individu. Hal ini bisa menyebabkan terhambatnya perkembangan kota itu untuk berkembang.

Apa dampak yang ditimbulkan oleh proses urbanisasi terhadap lingkungan perkotaan ?


Gbr.1. Banyaknya Masyarakat melakukan urbanisasi


Akibat dari meningkatnya proses urbanisasi, hal inin menimbulkan dampak-dampak terhadap lingkungan kota, baik dari segi kota tata kota, masyarakat, maupun keadaan sekitarnya. Dampak urbanisasi terhadap kehidupan di perkotaan adalah : 
  • Munculnya kawasan kumuh (slum area) yang bisa menghambat perkembangan kota dan menurunkan nilai estetika dari kota itu sendiri
  • Menaikkan tingkat polusi udara didaerah perkotaan
  • Tingkat kriminalitas meninggi dan menghilangkan tingkat kenyamanan bagi penduduk sekitar
  • Angka pengangguran semakin tinggi. ( Rustiadi dkk, 2009 : 223)
Konsep Pengembangan Kota Hijau

Kota Hijau adalah dimana kota yang dibangun tidak  mengorbankan aset kota yang terus menerus memumpuk semua aset,

  • Manusia
  • Lingkungan
  • Sarana pra sarana yang terbangun


Ciri-ciri Kota hijau 

  • Pemanfaatan secara efektif dan efesien sumber daya air dan energi
  • Mengurangi limbah
  • Menerapkan sistem transportasi
  • Menjamin kesehatan lingkungan alami dan buatan berdasarkan perencanaan dan perancangan kota yang berpihak pada prinsip pembangunan berkelanjutan ( lingkungan, sosial, dan ekonomi)
Atribut kota hijau yaitu
  • Green planning and design (Perencanaan dan perancangan kota yang beradaptasi pada kondisi biofisik kawasan)
  • Green open space ( Mewujudkan jejaring ruang terbuka hijau)
  • Green waste ( Usaha menetapkan 3R (Reduce, Reuse, and Recycle)
  • Green transportasion ( Pengembangan transportasion yang berkelanjutan / transportasi massal)   
Gbr.4.Green transportasion
  • Green water (Efisiensi pemanfaatan sumber daya air)
  • Green energy (Pemanfaatan sumber energi yang efisien dan ramah lingkungan)
  • Green building (Pengembangan bangunan hemat energi)
  • Freen community (Kepekaan,kepedulian,dan peran aktif masyarakat dalam pengembangan atribut kota hijau)

     Kota hijau sangat baik untuk perkembangan suatu kota saat ini dan dimasa yang akan datang. Tapi tentunya semua itu tercapai tergantung dari Perencana dan perancangan seorang ARSITEK tentunya dan peran aktif masyarakat dalam mengembangkan kota hijau, maka kota yang nyaman akan tercapai.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan,dengan pembahasan diatas semoga bermanfaat bagi kita semua, AMIN............ 





Sumber :














Selasa, 16 April 2013

ISU SOSIAL DIDAERAH PERKOTAAN

Assalamu'alaikum Wr.Wb


Seperti Apakah pembangunan berkelanjutan itu?

   Pembangunan berkelanjutan merupakan suatu proses dimana ekonomi, keuangan, perdagangan, energi, pertanian, industri, dan semua kebijakan lain diimplementsasikan dalam cara untuk membawa tentang perkembangan yang secara ekonomis, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan. Dengan demikian, tujuan dari pembangunan berkelanjutan adalah untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Adapun definisi Berkelanjutan ( komisi Brutland 1987) yaitu : 

  • Pembangunan yang memenuhi kebutuhan  sekarang tanpa mengkrompomikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
 unsur-unur berkelanjutan yaitu :
  • Lingkungan
  • Ekonomi
  • sosial


    Tidak diragukan lagi, masyarakat mengalami tantangan yang sangat berat sebagai sumber daya sosial, ekonomi, dan lingkungan yang rusak atau habis. Karena unsur-unsur masyarakat yang saling berhubungan, tidak ada jawaban langsung. Selain itu, masalah apapun kita menemukan diri kita hadapi, baik itu penyakit, gangguan manusia, perpecahan keluarga, pelecehan anak, kejahatan, ketidakadilan, konflik bersenjata, ekonomi melemah, kemiskinan, kurangnya pekerjaan yang berkualitas dan masih banyak lagi yang jadi masalah.

Isu-Isu Sosial Kota

    Masalah diperkotaan adalah pertambahan penduduk yang terkandali , tingkat kesadaran masyarakat dan kepedulian masyarakat kota terhadap lingkungan disekitar itu, dimana dia yang buat maka dialah yang berkuasa dan yang lemah pasti akan tertindas.  Terjadilah kesenjangan sosial yang mengakibatkan ketidakseimbangan dalam sector perkotaan, dimana orang hanya akan perdulikan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang lain lagi.

Isu sosial yang harus diperhatikan yaitu :
  • Pemerataan dan keadilan sosial, dapat dilakukan dengan cara :
  1. Distribusi Income dalam sistem kota, 
  2. Distribusi lokasi perumahan dan kesempatan kerja
  3. Akses kepada fasilitas kota

  • Kepadatan dan Kesemwrautan
           Dimana sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan,



Gbr.1 sprawl city


Gijon, Spain
Gbr.2 Compact city


  • Kemiskinan, Tunawisma, Minioritas wanita
  • keamanan masyarakat 
      Didalam suatu kota , terjadi slaing ketrgantungan antara lingkungan fisik dan lingkungan sosial, seperti misalnya, jalan - jalan dan lorong -lorong menjadi ruang komunal dan ruang publik yang tidak teratur tetapi menunjukkan adanya kontak sosial dan saling menyesuaikan diri antara penduduk asli dan penduduk pendatang, antara kepentingan  individu dan kepentingan umum. sehingga Keamanan masyarakat dalam suatu kota adalah hal yang jadi utama untuk diperhatikan.

gbr.3 keamanan masyarakat

  • Yang berkebutuhan khusus
 Didalam  merancang suatu kota kita harus memperhatikan kebutuhan sperti orang cacat yang menggunakan kursi roda, bagaimana merancang sebuah kota dengan memperhatikan pengguna jalan yang berkebutuhan khusus, dengan memberi ruang-ruang yang khusus.





Kita dapat mengambil kesimpulan dengan permaslahan yang ada diatas bahwa sebaiknya sebagai generasi penerus dan sebagai calon arsitek kita harus benar-benar memperhatikan lingkungan ,ekonomi, dan sosial dalam memrancang sebuah perkotaan.



Demikianlah yang dapat saya sampaiakan mohon maaf bila ada kekurangan, semoga bermanfaat bagi yang membacanya, Terima kashi

Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Sumber

 

 

Jumat, 05 April 2013

skb

19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rancangan sebuah bangunan tinggi
untuk penggunaan tunggal seperti
aparteme
n, perkantoran, sekolahan dan ru
mah sakit, ataupun untuk penggunaan ganda
berskala lebih besar, suda
h tentu memerlukan pendekata
n berbagai disiplin ilmu
perencanaan, fabrikasi baha
n, dan konstruksi bangunan.
Para ahli secara keseluruhan dalam tim tersebut harus menggunakan
pendekatan perencanaan bangunan sebagai
suatu sistem yang m
enyeluruh dimana
struktur penunjang fisik se
bagai bagian organik tumbuh bersama rancangan bangunan
tersebut. Struktur tidak boleh dipanda
ng sebagai suatu tambahan yang tidak
berhubungan dalam ruang fungsional oleh perancangnya, karena skala bangunan tinggi
pasti memerlukan sistem penunjang struktur
yang rumit dimana gaya-gaya fisik dan
lingkungan merupakan penentu rancangan ya
ng penting. Dalam hal ini bangunan harus
mampu menahan gaya-gaya ver
tikal gravitasi dan gaya hor
izontal angin serta gaya
gempa di bawah tanah.
Dapat dikatakan bahwa struktur ba
ngunan tinggi yang dikembangkan hingga
sekarang ini banyak m
enggunaka
n gabungan dari struktur
shear wall
dan struktur
core
wall
. Dimana struktur shear wall adalah uns
ur pengaku vertikal
yang dirancang untuk
menahan gaya lateral atau gaya gempa
yang bekerja pada bangunan. Dalam aplikasi
Universitas
Sumatera
Utara
20
konstruksi di lapangan, shear wall ini sering di
tempatkan di bagian ujung dalam fungsi
ruang suatu bangunan, ataupun ditempatkan
memanjang di tengah searah tinggi
bangunan, yang mana akan berfungsi untuk mena
han beban angin ataupun beban gempa
yang ditransfer melalui struktur
portal atau struktur lantai.
Sedangkan core wall adalah merupaka
n sistem dinding pendukung linear yang
cukup sesuai untuk bangunan tingg
i yang kebutuhan fungsi dan utilitasnya tetap yang
juga berfungsi untuk memenuhi kekakuan la
teral yang diperluka
n oleh struktur
bangunan. Dan dalam aplikasi konstsruksi di lapa
ngan kita dapat mengenal struktur core
wall ini sebagai struktur ruang lift, shaft atau
service duct. Struktur
core wall ini juga
biasanya ditempatkan mema
njang searah tinggi bangunan.
Sebagai gambarannya, core wall dapat
dibayangkan sebagai penahan lateral
yang mi
rip dengan balok besar yang terkantiliv
er dari tanah. Oleh sebab itu tegangan
geser dan lentur yang bekerja pada di
nding inti menyerupai balok berpenampang
persegi, dengan anggapan bahwa struktur
itu akan sanggup menahan gaya-gaya yang
bekerja padanya dan tidak akan runtuh. Karena
inti ini juga memikul beban gravitasi,
keuntungannya adalah timbul pratekan oleh
gaya-gaya induksi sehingga inti tersebut
tidak perlu dirancang untuk menahan tegangan
tarik oleh lentur yang diakibatkan oleh
beban lateral (hal ini nyata sangat berla
ku pada struktur inti beton yang besar).
Dalam aplikasi desain konstruksi de
wasa ini, penggunaan core wall
dipertimbangkan sebagai suatu bagian dari
sistem konstruksi ba
ngunan tinggi yang bisa
memikul gaya puntir (torsi), yang dapat terjad
i akibat adanya ekse
ntrisitas beban atau
Universitas
Sumatera
Utara
21
eksentrisitas struktur. Selain
itu, struktur ini juga dapa
t dibuat secara asimetris dan
ditempatkan di dalam ataupun di luar bangunan.
1.2. Perumusan Masalah
Semakin tinggi suatu bangunan, pentingnya
aksi gaya lateral me
njadi semakin
berarti. Pada ketinggian tertentu, ayuna
n lateral bangunan menjadi demikian besar
sehingga pertimbangan kekakua
n, kekuatan bahan struktur, akan sangat menentukan
keberhasilan rancangan. Tingkat kekakuan te
rutama bergantung pada jenis sistem
struktur yang dipilih. Selain itu, efisiens
i suatu sistem struktur tertentu berhubungan
(berbanding lurus) dengan kuantitas ma
terial yang dipergunakan. Sehingga optimasi
suatu struktur untuk kebutuhan ruang tert
entu haruslah menghasilkan kekakuan
maksimum, tetapi dengan berat seminimal mungkin. Dengan demikian akan
menciptakan suatu sistem struktur yang i
novatif dan dapat diterapkan hingga ambang
ketinggian tertentu.
Kestabilan dan kekakuan
suatu jenis struktur ba
ngunan tinggi untuk me
nahan
beban sangat tergantung pada sistem strukt
ur itu sendiri. Dalam proses perencanaan
suatu bangunan tinggi (apakah bangunan itu te
rbuat dari beton ataupun baja), kita
mempunyai tujuan yang hendak dicapai ad
alah bahwa bangunan itu nantinya akan
mampu menahan beban-beban vertikal, hor
izontal maupun beban gempa yang terjadi
padanya.
Untuk aplikasi struktur bangunan tinggi
konstruksi beton, ada dua sistem
struktur yang dapat diterapkan yang dipe
rtimbangkan mampu menahan gaya-gaya luar
Universitas
Sumatera
Utara
22
seperti yang disebutkan di
atas (gaya-gaya horizontal,
vertikal, maupun gempa), yakni
kita dapat mengaplikasikan sistem st
ruktur shear wall (dinding geser) atau
menggunakan sistem struktur core wall (dinding inti).
Sesuai penjelasan sebelum
nya pada bagian pendahulua
n, sist
em shear wall ini
direncanakan dengan menempatkan struktur di
nding geser tersebut
sesuai dengan tujuan
perencanaan yang kita kehenda
ki, sehingga mampu mengeliminasi gaya-gaya luar yang
akan timbul pada struktur tersebut.
Sedangkan sistem core wall kita aplikasikan pada struktur shaft perpipaan,
shaft lift, dima
na kita kadangkala mere
ncanakan suatu sistem tabung beton yang
konstruksinya adalah berupa pelat beton tipi
s, yang dibuat dari ba
wah hingga ke atas
bangunan.
Pemahaman analisis suatu struktur inti te
rhadap beban lateral bergantung pada
bentuk, tingkat homoge
nitas, kekakuan dan arah datangnya beban. Di setiap lantai
terdapat bukaan struktur inti yang
berkesinambungan yang dikombinasikan dengan
balok pengikat yang akan menimbulkan karakt
eristik perilaku struktur inti tersebut.
Struktur inti tersebut dapat berlaku seba
gai penampang terbuka dan terpengaruh gaya
yang bekerja padanya (menekuk) pada bagian
atasnya, terutama jika menerima gaya
asimetris yang menimbulkan puntir. Dengan demikian, tegangan torsi tambahan pada
bagian atas inti akan terjadi bersamaan denga
n lentur lateral tambah
an serta geser pada
bagian dasar bangunan.
Universitas
Sumatera
Utara
23
Gambar 1.1. Denah tampang core wall 2 cell
Dalam tesis ini pembahasannya akan dif
okuskan pada struktur
core wall dua
cell, yaitu core wall yang diberi pelat pe
ngaku di bagian tengahnya. Dengan adanya
beban torsi pada pelat dinding, m
aka akan
terjadi pelengkungan (warping). Oleh sebab
itu, dalam tesis ini, analisis dari permasalahannya akan membahas core wall dua cell
dengan konsep dinding tipis (thin wall).
1.3. Tujuan Pembuatan Tesis
Adapun tujuan pembahasan yang diharapk
an dari penulisan tesis ini intinya
adalah sebagai berikut :
Dengan adanya beban Torsi yang terjadi pada Core Wall 2 Cell dari analisa pembebanan
akibat beban angin, akan ditinjau bagaim
ana tegangan-tegangan yang terjadi pada pelat
tipis Core Wall 2 Cell tersebut.
Core Wall berperilaku bagai dinding pena
han yang ma
mpu mengeliminasi gaya-gaya
Torsi dimana Core Wall 2 Cell bisa diumpamakan seperti balok besar berpenampang
Universitas
Sumatera
Utara
24
segi empat ataupun kolom besar yang juga
berpenampang segi empat dengan kondisi
jepit bebas menjulang dari
bawah sampai ke atas.
1.4. Pembatasan Masalah
Sebagai pembatas permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan tesis ini
adalah sebagai berikut :
a. Beban luar yang ditinjau hanya beba
n angin yang dimo
difikasi menimbulkan
beban torsi pada pelat core wall 2 cell.
b. Analisa perhitungan struktur akan di
bantu dnegan me
nggunakan methode elemen
hingga
c. Material pelat core wall 2 cell yang di
analisa diasumsikan terbuat dari beton.
d.
Bahan yang ditinjau diasumsikan bers
ifat homogen, isotropis dan berlaku Hukum
Hooke
e. Menggunakan teori lendutan kecil
sehingga diasumsikan penam
pang masih utuh
serta belum sampaim pada stadium retak..
e. Tampang core wall 2 cell yang ditinjau ad
alah pelat tipis bertampang segi em
pat.
1.5. Metodologi Pembuatan Tesis
Metodologi yang dipakai dalam penyusuna
n tesis ini adalah kajian studi
literatur secara analitis yang me
nyangkut pe
mbahasan core wall 2 ceel, dimana hasil
Universitas
Sumatera
Utara
25
analisis perhitungannya akan dibandi
ngkan dengan hasil perhitungan dengan
menggunakan Metode Finite Elemen..
1.6. Sistematika Penulisan Tesis
Sebagai salah satu produk tulisan ilmiah,
ma
ka penulisan tesis ini akan mengacu
kepada format penulisan tulisan ilmiah
yang baku, yang sesuai dengan sistematika
penulisan sebagai berikut :
BAB I
: PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Perumusan Masalah
1.3. Tujuan Pembuatan Tesis
1.4. Pembatasan Masalah
1.5. Metodologi Pembuatan Tesis
1.6. Sistematika Penulisan Tesis
BAB II : LANDASAN TEORI CORE WALL
2.1. Karakterisitik Bentuk dan Letak Core Wall
2.2. Karakterisitik Beban Core Wall
2.3. Torsi pada batang penampang dinding tipis terbuka
2.4. Torsi pada batang penampang dinding tipis tertutup
Universitas
Sumatera
Utara

Skb

A. GAYA YANG MUNGKIN TIMBUL PADA BANGUNAN TINGGI
Sistem penahan gaya lateral
Pada struktur bangunan tinggi, hal ini penting untuk stabilitas dan kemampuanbya menahan gaya lateral, baik disebabkan oleh angin atau gempa bumi. Beban angin lebih terkait pada massa bangunan.
Gaya External
Gaya external adalah gaya yang berasal dari luar bangunan. Gaya yang berasal dari luar bangunan seperti :
- Gaya angin
- Gempa bumi
Gaya Internal
Gaya internal adalah gaya yang berasal dari dalam bangunan seperti beban bangunan itu sendiri. Beban yang ada pada bangunan terbagi dua yaitu beban mati dan beban hidup.
- Beban hidup : berat manusia, lemari, dan benda benda yang dapat dipindahkan.
- Beban mati : berat pondasi, kolom, dinding, dan sebagainya.
Mengontrol Kuat Geser 1 Arah
Kerusakan akibat gaya geser 1 arah terjadi pada keadaan dimana mula- mula terjadi retak miring pada daerah beton tarik (seperti creep), akibat distribusi beban vertikal dari kolom (Pu kolom) yang diteruskan ke pondasi sehingga menyebabkan bagian dasar pondasi mengalami tegangan. Akibat tegangan ini, tanah memberikan respon berupa gaya reaksi vertikal ke atas (gaya geser) sebagai akibat dari adanya gaya aksi tersebut. Kombinasi beban vertikal Pu kolom (ke bawah) dan gaya geser tekanan tanah ke atas berlangsung sedemikian rupa hingga sedikit demi sedikit membuat retak miring tadi semakin menjalar keatas dan membuat daerah beton tekan semakin mengecil.
Dengan semakin mengecilnya daerah beton tekan ini, maka mengakibatkan beton tidak mampu menahan beban geser tanah yang mendorong ke atas, akibatnya beton tekan akan mengalami keruntuhan. Berikut ini ilustrasinya :
http://3.bp.blogspot.com/-p6MTB6myjYE/TaPaPPU3XOI/AAAAAAAAA0U/E2fNlNy3zWM/s400/g2_thumb4.jpg
Gambar 1. Kerusakan Pondasi Akibat Gaya Geser 1 arah
Kerusakan pondasi yang diakibatkan oleh gaya geser 1 arah ini biasanya terjadi jika nilai perbandingan antara nilai a dan nilai d cukup kecil, dan karena mutu beton yang digunakan juga kurang baik, sehingga mengurangi kemampuan beton dalam menahan beban tekan.
http://3.bp.blogspot.com/-UxPwIdMndqw/TaPaxAHaH_I/AAAAAAAAA0Y/DEeQ4uhxpqo/s400/g1_thumb11.jpg
Gambar 2. Keretakan Pondasi Akibat Gaya Geser 1 arah

Mengontrol Kuat Geser 2 Arah (Punching Shear)
Kuat geser 2 arah atau biasa disebut juga dengan geser pons, dimana akibat gaya geser ini pondasi mengalami kerusakan di sekeliling kolom dengan jarak kurang lebih d/2. Berikut ini ilustrasinya :
http://4.bp.blogspot.com/-yutpruK2wXw/TaPWElcpyBI/AAAAAAAAAz4/Qbi5Cc_dEaU/s1600/g3_thumb8.jpg
Gambar 3. Kerusakan Pondasi Akibat Gaya Geser 2 arah
Beban yang bekerja pada pondasi adalah beban dari reaksi tegangan tanah yang bergerak vertikal ke atas akibat adanya gaya aksi vertikal kebawah (Pu) yang disalurkan oleh kolom. Tulangan pondasi dihitung berdasarkan momen maksimal yang terjadi pada pondasi dengan asumsi bahwa pondasi dianggap pelat yang terjepit dibagian tepi- tepi kolom. Menurut  SNI 03-2847-2002, tulangan pondasi telapak berbentuk bujur sangkar harus disebar merata pada seluruh lebar pondasi.
foto1
Perhatikan, meskipun terlihat cukup banyak element vertikal tetapi yang berupa kolom struktur satu, yaitu yang ke dua dari sebelah kanan, yang lain adalah kolom praktis yang benar-benar praktis tidak memberi perlawanan terhadap gaya lateral gempa.
B. PEMBEBANAN PADA BANGUNAN TINGGI
Penyaluran Beban
Pada bagian diatas telah diketahui gaya yang bekerja pada suatu bangunan. Gaya tersebut akan mengalami penyaluran beban. Beban-beban tersebut di antaranya:
1. Beban mati:
Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu bangunan yang bersifat tetap, termasuk segala bagian tambahan, mesin-mesin serta perlengkapan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bangunan itu.
2. Beban hidup:
Beban hidup adalah beban yang sifatnya dapat beubah-ubah atau begerak sesuai dengan penggunaan bangunan (ruangan) yang bukan bagian dari konstruksi bangunan. Beban hidup dapat menopang pada beban mati yang dapat berubah dalam jangka waktu pendek sesuai pergerakan atau pemindahan benda dan dapat juga berubah dalam jangka waktu panjang. Adapun jenis beban hidup yang ada pada bangunan meliputi: manusia, furniture, kendaraan, dan gerakan yang terjadi seperti ledakan.
3. Beban angin:
Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada bangunan atau bagian bangunan yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Beban agin diperhitungkan karena angin besar dapat menekan bangunan dan mempengaruhi kekuatannya. Bila kecepatan angin di suatu daerah rata-rata konstan, maka hal ini dapat disebut statis. Apabila perubahannya besar maka termasuk tekanan dinamis. Tekanan dinamis ini dipengaruhi oleh factor-faktor lingkungan seperti kekasaran dan bentuk kerampingan bangunan, dan letak bangunan yang berdekatan satu sama lain.
4. Beban gempa:
Beban gempa adalah semua beban static ekivalen yang bekerja pada bangunan atau bagian bangunan yang menirukan pengaruh dari pergerakan tanah akibat gempa itu. Pengaruh gempa pada struktur ditentukan berdasarkan analisa dinamik, maka yang diartikan dalam beban gempa yaitu gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh tanah akibat gempa itu.
5. Beban additional:
Beban additional adalah beban yang memiliki nilai yang lebih besar dari nilai beban mati atau beban hidup dan merupakan bagian dari struktur yang harus ditinjau. Diantara beban additional adalah tendon air di atas bangunan, kuda-kuda, tangga, dan lift.
Selain beban yang disebutkan diatas ada juga sifat beban yang ada pada bangunan, jenis beban tersebut ialah beban vertical dan beban horizontal
1. Beban Vertikal
Pada struktur post and beam, struktur akan memikul beban beban vertikal dan selanjutnya beban diteruskan ke tanah. Pada struktur jenis ini, balok terletak bebas di atas kolom. Sehingga pada saat beban menyebabkan momen pada balok, ujung-ujung balok berotasi di ujung atas kolom. Jadi, sudut yang dibentuk antara ujung balok dan ujung atas kolom berubah. Kolom tidak mempunyai kemampuan untuk menahan rotasi ujung balok. Ini berarti tidak ada momen yang dapat diteruskan ke kolom,sehingga kolom memikul gaya aksial. Apabila suatu struktur rangka kaku mengalami beban vertikal seperti di atas, beban tersebut juga dipikul oleh balok, diteruskan ke kolom dan akhirnya diterima oleh tanah. Beban itu menyebabkan balok cenderung berotasi. Tetapi pada struktur rangka kaku akan terjadi rotasi bebas pada ujung yang mencegah rotasi bebas balok. Hal ini dikarenakan ujung atas kolom dan balok berhubungan secara kaku. Hal penting yang terjadi adalah balok tersebut lebih bersifat mendekati balok berujung jepit, bukan terletak secara sederhana.
Seiring dengn hal tersebut, diperoleh beberapa keuntungan, yaitu bertambahnya kekakuan, berkurangnya defleksi, dan berkurangnya momen lentur internal. Akibat lain dari hubungan kaku tersebut adalah bahwa kolom menerima juga momen lentur serta gaya aksial akibat ujung kolom cenderung memberikan tahanan rotasionalnya. Ini berarti desain kolom menjadi relatif lebih rumit. Titik hubung kaku berfungsi sebagai satu kesatuan. Artinya, bila titik ujung itu berotasi, maka sudut relatif antara elemen-elemen yang dihubungkan tidak berubah. Misalnya, bila sudut antara balok dan kolom semula 900, setelah titik hubung berotasi, sudut akan tetap 900. Besar rotasi titik hubung tergantung pada kekakuan relatif antara balok dan kolom. Bila kolom semakin relatif kaku terhadap balok, maka kolom lebih mendekati sifat jepit terhadap ujung balok, sehingga rotasi titik hubung semakin kecil.
Bagaimanapun rotasi selalu terjadi walaupun besarannya relatif kecil. Jadi kondisi ujung balok pada struktur rangka kaku terletak di antara kondisi ujung jepit (tidak ada rotasi sama sekali) dan kondisi ujung sendi-sendi (bebas berotasi). Begitu pula halnya dengan ujung atas kolom. Perilaku yang dijelaskan di atas secara umum berarti bahwa balok pada sistem rangka kaku yang memikul beban vertikal dapat didesain lebih kecil daripada balok pada sistem post and beam. Sedangkan kolom pada struktur rangka kaku harus didesain lebih besar dibandingkan dengan kolom pada struktur post and beam, karena pada struktur rangka kaku ada kombinasi momen lentur dan gaya aksial. Sedangkan pada struktur post and beam hanya terjadi gaya aksial. Ukuran relatif kolom akan semakin dipengaruhi bila tekuk juga ditinjau. Hal ini dikarenakan kolom pada struktur rangka mempunyai tahanan ujung, sedangkan kolom pada post and beam tidak mempunyai tahanan ujung. Perbedaan lain antara struktur rangka kaku dan struktur post and beam sebagai respon terhadap beban vertikal adalah adanya reaksi horisontal pada struktur rangka kaku. Sementara pada struktur post and beam tidak ada.
Pondasi untuk rangka harus didesain untuk memikul gaya dorong horisontal yang ditimbulkan oleh beban vertikal. Pada struktur post and beam yang dibebani vertikal, tidak ada gaya dorong horisontal, jadi tidak ada reaksi horisontal. Dengan demikian, pondasi struktur post and beam relatif lebih sederhana dibandingkan pondasi untuk struktur rangka.
foto3
Ini merupakan salah satu kerusakan tipikal bangunan-bangunan lama, yang mana fokusnya masih pada pembebanan vertikal. Perhatikan tembok satu batu saja dengan ringannya dapat terbelah oleh gempa, juga balok kayu di atas, meskipun masih utuh, tetapi tidak ada peranannya dalam memikul gaya lateral akibat gempa. Itu merupakan konstruksi simple beam, sedangkan tembok seperti kolom kantilever, bahkan mungkin seperti sendi-bebas (tidak stabil terhadap beban lateral).
2. Beban Horisontal
Perilaku struktur post and beam dan struktur rangka terhadap beban horisontal sangat berbeda. Struktur post and beam dapat dikatakan hampir tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk memikul beban horisontal. Adanya sedikit kemampuan, pada umumnya hanyalah karena berat sendiri dari tiang / kolom (post), atau adanya kontribusi elemen lain, misalnya dinding penutup yang berfungsi sebagai bracing. Tetapi perlu diingat bahwa kemampuan memikul beban horisontal pada struktur post and beam ini sangat kecil. Sehingga struktur post and beam tidak dapat digunakan untuk memikul beban horisontal seperti beban gempa dan angin.  Sebaliknya, pada struktur rangka timbul lentur, gaya geser dan gaya aksial pada semua elemen, balok maupun kolom. Momen lentur yang diakibatkan oleh beban lateral (angin dan gempa) seringkali mencapai maksimum pada penampang dekat titik hubung. Dengan demikian, ukuran elemen struktur di bagian yang dekat dengan titik hubung pada umumnya dibuat besar atau diperkuat bila gaya lateralnya cukup besar.
Rangka kaku dapat diterapkan pada gedung besar maupun kecil. Secara umum, semakin tinggi gedung, maka akan semakin besar pula momen dan gaya-gaya pada setiap elemen struktur. Kolom terbawah pada gedung bertingkat banyak pada umumnya memikul gaya aksial dan momen lentur terbesar. Bila beban lateral itu sudah sangat besar, maka umumnya diperlukan kontribusi elemen struktur lainnya untuk memikul, misalnya dengan menggunakan pengekang (bracing) atau dinding geser (shear walls).
Efek Kondisi Pembebanan Sebagian
Seperti yang terjadi pada balok menerus, momen maksimum yang terjadi pada struktur rangka bukan terjadi pada saat rangka itu dibebani penuh. Melainkan pada saat dibebani sebagian. Hal ini sangat menyulitkan proses analisisnya. Masalah utamanya adalah masalah prediksi kondisi beban yang bagaimanakah yang menghasilkan momen kritis.